Sebuah Kisah tentang Sejarah, Keunikan, dan Potensi Ekonomi Buah Lokal
Oleh: Anton Sutrisno
Pendahuluan: Buah Besar dari Tanah Lebong
Di antara hamparan perbukitan yang sejuk di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, tumbuh sebuah komoditas pertanian yang memiliki cerita menarik. Buahnya berukuran relatif besar, kulitnya berwarna kuning jingga, daging buahnya kaya air, dan rasanya menghadirkan perpaduan manis serta asam yang menyegarkan.
| Jeruk Gerga Lebong |
Buah itu dikenal dengan nama Jeruk Gerga Lebong, atau secara resmi disebut Rimau Gerga Lebong (RGL).
Bagi masyarakat Bengkulu, Jeruk Gerga bukan sekadar buah untuk dikonsumsi. Ia merupakan simbol keberhasilan petani dalam mengembangkan komoditas hortikultura yang memiliki identitas lokal. Dari sebuah kebun di kawasan Rimbo Pengadang, jeruk ini kemudian dikenal lebih luas, menarik perhatian konsumen, dan menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.
Jeruk Gerga memiliki daya tarik yang berbeda dibandingkan jeruk pada umumnya. Ukurannya yang besar membuatnya mudah dikenali. Warna kulitnya yang cerah menghadirkan kesan segar, sedangkan kandungan sari buahnya memberikan sensasi tersendiri ketika dinikmati.
Keistimewaan tersebut bukan hanya menarik perhatian konsumen, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pedesaan.
Di tengah tantangan pertanian Indonesia yang semakin kompleks, Jeruk Gerga memperlihatkan bahwa komoditas lokal dapat berkembang menjadi sumber pendapatan baru. Dengan pengelolaan yang tepat, buah ini berpotensi menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi daerah, khususnya melalui pengembangan perkebunan rakyat, perdagangan hasil pertanian, industri pengolahan, dan pariwisata berbasis kebun.
Namun, di balik popularitasnya, Jeruk Gerga menyimpan kisah panjang tentang perjalanan bibit, ketekunan seorang petani, proses pengenalan varietas, serta harapan masyarakat terhadap masa depan pertanian Bengkulu.
Menelusuri Sejarah: Perjalanan Jeruk dari Negeri Jauh ke Tanah Lebong
Nama Jeruk Gerga Lebong memiliki cerita yang menarik. Meskipun kini dikenal sebagai salah satu kebanggaan Kabupaten Lebong, perjalanan jeruk ini tidak bermula dari Bengkulu.
Berdasarkan sejumlah literatur pertanian, varietas jeruk yang kemudian dikenal sebagai Rimau Gerga Lebong memiliki sejarah introduksi dari luar negeri. Jeruk ini disebut berasal dari Israel, dikembangkan di Thailand, kemudian diperkenalkan ke Indonesia melalui kawasan Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Di wilayah Karo, jeruk tersebut tidak berkembang secara optimal karena kondisi lingkungan yang kurang sesuai. Perjalanan berikutnya membawa tanaman ini ke Kabupaten Lebong, Bengkulu.
Di sinilah peran seorang petani bernama Gerga menjadi penting.
Gerga merupakan petani yang membawa dan mengembangkan tanaman jeruk tersebut di kawasan Rimbo Pengadang. Tanaman yang awalnya hanya menjadi koleksi kemudian menunjukkan hasil yang menjanjikan. Buahnya berukuran besar, memiliki warna menarik, serta menghasilkan rasa yang disukai konsumen.
Pada awal pengembangannya, tanaman jeruk ini hanya ditanam dalam jumlah terbatas. Namun, setelah menghasilkan buah dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat, minat terhadap jeruk tersebut semakin meningkat.
Nama Gerga kemudian diabadikan dalam nama varietas sebagai bentuk penghargaan atas peran petani tersebut.
Nama Rimau Gerga Lebong mengandung tiga unsur penting. Rimau merupakan bagian dari identitas penamaan lokal, Gerga merujuk pada petani yang berjasa dalam pengembangannya, sedangkan Lebong menunjukkan daerah tempat jeruk ini berkembang dan memperoleh identitasnya.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi pertanian tidak selalu lahir dari laboratorium atau perusahaan besar. Terkadang, sebuah komoditas unggulan justru berkembang dari pengalaman seorang petani yang mencoba tanaman baru, mengamati hasilnya, dan melihat peluang yang belum disadari orang lain.
Perjalanan Jeruk Gerga juga memperlihatkan pentingnya hubungan antara petani dan lembaga penelitian. Tanaman yang awalnya berkembang secara terbatas kemudian memperoleh perhatian pemerintah dan dunia penelitian untuk mendukung pengembangan varietas, penyediaan bibit, serta peningkatan kualitas produksi.
Jeruk Gerga mulai dikenal masyarakat luas sekitar tahun 2009. Pada Oktober 2010, jeruk ini didaftarkan sebagai varietas lokal. Selanjutnya, pada 14 Maret 2011, Rimau Gerga Lebong resmi terdaftar sebagai varietas lokal Lebong.
Pada tahun 2012, jeruk ini memperoleh pengakuan sebagai varietas unggul nasional melalui keputusan Menteri Pertanian.
| Pertumbuhan Jeruk Gerga di Rimbo Pengadang Lebong |
Pengakuan tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan Jeruk Gerga. Status varietas unggul memberikan dasar yang lebih kuat bagi pengembangan komoditas ini melalui kegiatan penelitian, pembinaan petani, penyediaan benih, serta perluasan kawasan budidaya.
Sejak saat itu, Jeruk Gerga tidak lagi sekadar dikenal sebagai buah dari sebuah kebun di Rimbo Pengadang. Ia mulai memperoleh tempat dalam peta pengembangan hortikultura nasional.
Sumber sejarah dan perkembangan varietas: Kementerian Pertanian dan berbagai publikasi pertanian mengenai Rimau Gerga Lebong.
Keunikan Jeruk Gerga: Besar, Segar, dan Memiliki Cita Rasa Khas
Salah satu alasan Jeruk Gerga menarik perhatian konsumen adalah karakteristik buahnya yang berbeda dari jeruk pada umumnya.
Buah Jeruk Gerga memiliki ukuran relatif besar. Dalam berbagai publikasi pertanian, bobot buahnya dilaporkan berkisar sekitar 200–350 gram per buah, meskipun ukuran aktual dapat berbeda bergantung pada varietas tanaman, kondisi kebun, umur tanaman, pemupukan, serta pengelolaan budidaya.
Kulit buahnya berwarna kuning hingga jingga. Warna tersebut memberikan tampilan yang menarik, terutama ketika buah telah mencapai tingkat kematangan yang sesuai.
Daging buahnya memiliki kandungan sari yang tinggi. Ketika dibelah, buah ini menghadirkan aroma jeruk yang segar. Rasanya merupakan perpaduan manis dan asam yang memberikan sensasi menyegarkan.
Perpaduan rasa tersebut menjadi salah satu daya tarik Jeruk Gerga. Sebagian konsumen menyukainya karena rasa manisnya tidak menghilangkan karakter asam khas jeruk.
Keunggulan lainnya adalah potensi tanaman untuk menghasilkan buah dalam beberapa periode panen. Dengan pengelolaan yang baik, tanaman Jeruk Gerga dapat memiliki bunga, buah muda, dan buah yang siap dipanen pada waktu yang berdekatan.
Karakteristik tersebut memberikan peluang bagi petani untuk memperoleh hasil secara lebih berkelanjutan dibandingkan komoditas yang hanya memiliki satu musim panen utama.
Meski demikian, kemampuan menghasilkan buah sepanjang tahun tidak berarti produksi selalu stabil. Produktivitas tetap dipengaruhi oleh kondisi cuaca, ketersediaan air, kesehatan tanaman, pemupukan, pemangkasan, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Keunikan Jeruk Gerga juga terletak pada identitas geografisnya.
Nama Lebong telah melekat dalam persepsi masyarakat terhadap buah ini. Hal tersebut merupakan modal penting untuk membangun merek produk pertanian daerah.
Di pasar yang semakin kompetitif, konsumen tidak hanya membeli buah berdasarkan rasa dan harga. Mereka juga mulai tertarik pada asal-usul produk, cerita di balik pembudidayaannya, serta identitas daerah penghasilnya.
Jeruk Gerga memiliki semua unsur tersebut.
Ia mempunyai cerita sejarah, karakteristik buah yang khas, dan hubungan erat dengan masyarakat Kabupaten Lebong.
Inilah yang membuat Jeruk Gerga memiliki peluang untuk berkembang sebagai produk hortikultura dengan nilai tambah lebih tinggi.
Rimbo Pengadang: Dari Sentra Awal Menuju Kawasan Agribisnis
Kecamatan Rimbo Pengadang merupakan salah satu wilayah yang memiliki hubungan erat dengan sejarah pengembangan Jeruk Gerga.
Kawasan ini menjadi tempat awal berkembangnya tanaman tersebut dan kemudian dikenal sebagai sentra pengembangan jeruk RGL.
Pada awalnya, pengembangan Jeruk Gerga menghadapi berbagai keterbatasan. Salah satu persoalan penting adalah ketersediaan bibit.
Petani yang ingin mengembangkan tanaman ini memerlukan bibit berkualitas dengan jumlah yang memadai. Ketika permintaan meningkat, penyediaan bibit menjadi salah satu faktor yang menentukan kecepatan perluasan kebun.
Pada masa awal pengembangan, petani masih mengandalkan pohon induk yang tersedia di kawasan sentra. Upaya perbanyakan tanaman dilakukan secara terbatas, sehingga perluasan areal tidak dapat berlangsung secara cepat.
Pemerintah daerah kemudian memberikan perhatian terhadap pengembangan komoditas tersebut.
Pada tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Lebong pernah merencanakan perluasan areal Jeruk Gerga dari sekitar 20 hektare menjadi 200 hektare pada tahun berikutnya.
Rencana tersebut mencerminkan besarnya harapan terhadap Jeruk Gerga sebagai sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, pengembangan jeruk RGL tidak hanya berlangsung di Kabupaten Lebong. Komoditas ini juga mulai dikembangkan di Kabupaten Rejang Lebong, Kepahiang, dan beberapa wilayah lainnya di Provinsi Bengkulu.
Perluasan tersebut menunjukkan bahwa Jeruk Gerga memiliki peluang untuk berkembang menjadi komoditas unggulan lintas wilayah.
Namun, perluasan kawasan budidaya harus tetap memperhatikan kesesuaian lahan dan lingkungan.
Tidak semua wilayah memiliki kondisi yang sama. Ketinggian tempat, suhu, curah hujan, jenis tanah, ketersediaan air, serta sistem drainase berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
Karena itu, pengembangan kawasan Jeruk Gerga sebaiknya dilakukan berdasarkan pemetaan kesesuaian lahan dan kajian teknis.
Pengembangan yang terlalu cepat tanpa memperhatikan aspek tersebut dapat menimbulkan persoalan baru, mulai dari produktivitas rendah hingga meningkatnya risiko serangan penyakit tanaman.
Sebaliknya, apabila pengembangan dilakukan secara terencana, kawasan Jeruk Gerga dapat tumbuh menjadi pusat agribisnis yang melibatkan banyak pihak.
| Agrowisata Jeruk Gerga Lebong |
Petani menjadi produsen utama. Kelompok tani berperan dalam pengorganisasian produksi. Pemerintah mendukung penyediaan infrastruktur dan pembinaan. Lembaga penelitian membantu peningkatan teknologi. Sementara itu, pedagang dan pelaku usaha menghubungkan hasil kebun dengan pasar.
Dengan pola tersebut, Jeruk Gerga tidak hanya berkembang sebagai tanaman buah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kawasan.
Potensi Ekonomi: Buah yang Dapat Menggerakkan Desa
Salah satu potensi terbesar Jeruk Gerga adalah kemampuannya menciptakan nilai ekonomi dari lahan pertanian rakyat.
Bagi petani, kebun jeruk merupakan investasi jangka menengah hingga panjang. Tanaman yang telah memasuki masa produktif dapat memberikan hasil secara berulang, selama dipelihara dengan baik.
Pendapatan dari kebun jeruk dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, memperbaiki rumah, serta mendukung kegiatan usaha lainnya.
Namun, manfaat ekonomi Jeruk Gerga tidak berhenti pada petani pemilik kebun.
Dalam satu rantai agribisnis, terdapat berbagai kegiatan ekonomi yang dapat berkembang.
Pertama, usaha pembibitan.
Permintaan terhadap bibit berkualitas membuka peluang bagi penangkar lokal. Pembibitan dapat menjadi usaha tersendiri bagi masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam perbanyakan tanaman.
Kedua, usaha budidaya.
Petani dapat mengembangkan kebun Jeruk Gerga sebagai usaha utama maupun usaha tambahan. Bagi petani yang memiliki lahan terbatas, jeruk dapat menjadi salah satu pilihan diversifikasi komoditas.
Ketiga, perdagangan hasil panen.
Ketika produksi meningkat, kebutuhan terhadap pedagang pengumpul, pengepul desa, transportasi, dan distribusi juga meningkat.
Keempat, usaha pengemasan.
Buah yang dipasarkan dalam kondisi bersih, seragam, dan dikemas secara menarik berpotensi memperoleh nilai jual lebih baik dibandingkan buah yang dijual tanpa proses sortasi.
Kelima, industri pengolahan.
Jeruk Gerga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan, seperti sari jeruk, minuman segar, selai, manisan kulit jeruk, dan produk pangan lainnya.
Pengolahan dapat menjadi alternatif pemanfaatan buah yang tidak memenuhi standar pasar buah segar, selama kondisinya masih layak dan aman untuk diolah.
Keenam, pariwisata pertanian.
Kebun Jeruk Gerga dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis pengalaman pertanian. Pengunjung dapat melihat proses budidaya, menikmati buah segar, mempelajari sejarah jeruk, serta membeli produk langsung dari petani.
Model wisata kebun dapat memberikan tambahan pendapatan di luar penjualan hasil panen.
Dengan demikian, Jeruk Gerga memiliki potensi untuk membangun ekonomi lokal melalui pendekatan yang lebih luas daripada sekadar produksi buah.
Ia dapat menjadi pusat kegiatan ekonomi yang melibatkan petani, pedagang, pengusaha kecil, kelompok perempuan, pemuda desa, serta pelaku wisata.
Apabila dikembangkan secara terintegrasi, nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya dinikmati oleh pemilik kebun, tetapi juga menyebar kepada masyarakat di sekitarnya.
Peluang Pasar: Dari Bengkulu Menuju Pasar Nasional
Jeruk merupakan salah satu buah yang memiliki permintaan relatif luas di Indonesia.
Buah ini dikonsumsi oleh berbagai kelompok masyarakat, baik sebagai buah segar maupun sebagai bahan baku minuman dan produk olahan.
Jeruk Gerga memiliki peluang untuk mengambil bagian dalam pasar tersebut melalui karakteristiknya yang khas.
Pada tahun 2012, pemberitaan ANTARA mencatat bahwa permintaan Jeruk Gerga dari pedagang, pasar modern, hingga supermarket di Jakarta cukup tinggi. Bahkan, kebutuhan pasar pada saat itu dilaporkan mencapai lebih dari 100 ton per bulan, sementara pasokan dari petani masih terbatas.
Angka tersebut merupakan gambaran kondisi pasar pada masa itu, bukan ukuran permintaan aktual saat ini. Namun, informasi tersebut menunjukkan bahwa Jeruk Gerga pernah memperoleh perhatian pasar yang cukup besar.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga agar permintaan pasar dapat dipenuhi secara konsisten.
Pasar modern membutuhkan produk dengan standar tertentu. Buah harus memiliki ukuran yang relatif seragam, tingkat kematangan sesuai, kondisi kulit baik, dan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, pasar tradisional memiliki karakteristik yang lebih beragam. Konsumen dapat menerima variasi ukuran dan penampilan buah, tetapi harga menjadi faktor yang sangat penting.
Karena itu, strategi pemasaran Jeruk Gerga perlu disesuaikan dengan segmen pasar.
Untuk pasar premium, pengembangan merek, pengemasan, sortasi, dan jaminan kualitas menjadi prioritas.
Untuk pasar tradisional, kontinuitas pasokan, harga yang kompetitif, dan efisiensi distribusi menjadi faktor penting.
Peluang lainnya adalah pemasaran digital.
Petani dan kelompok tani dapat memanfaatkan media sosial, marketplace, serta jaringan perdagangan daring untuk memperkenalkan produk kepada konsumen di luar Bengkulu.
Pemasaran digital juga memungkinkan petani menyampaikan cerita mengenai asal-usul Jeruk Gerga, proses budidaya, dan kehidupan masyarakat di kawasan penghasil.
Cerita tersebut dapat menjadi nilai tambah yang membedakan Jeruk Gerga dari jeruk lain di pasar.
Namun, pemasaran digital harus didukung oleh sistem logistik yang baik.
Buah yang dikirim ke luar daerah perlu ditangani dengan hati-hati agar tidak mengalami kerusakan selama perjalanan.
Sortasi, pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produk.
Tanpa penanganan pascapanen yang baik, keuntungan dari pemasaran yang lebih luas dapat berkurang akibat kerusakan buah.
Tantangan Pengembangan: Jangan Sampai Popularitas Mengalahkan Kualitas
Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan Jeruk Gerga bukan tanpa tantangan.
Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan bibit berkualitas.
Bibit merupakan fondasi keberhasilan kebun. Bibit yang tidak jelas asal-usulnya berisiko menghasilkan tanaman dengan produktivitas rendah atau karakteristik buah yang tidak sesuai harapan.
Karena itu, penyediaan bibit perlu dilakukan melalui penangkar yang memenuhi ketentuan perbenihan dan menggunakan sumber tanaman yang jelas.
Tantangan berikutnya adalah pengelolaan kebun.
Tanaman jeruk membutuhkan pemeliharaan yang berkelanjutan. Pemupukan harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi tanah. Pemangkasan diperlukan untuk menjaga bentuk tajuk dan mendukung produktivitas. Pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara tepat.
Pengelolaan air juga menjadi faktor penting.
Kelebihan air dapat mengganggu kondisi perakaran, sedangkan kekurangan air dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan buah.
Karena itu, sistem drainase dan pengelolaan kelembapan tanah perlu diperhatikan.
Selain aspek budidaya, fluktuasi harga juga menjadi tantangan bagi petani.
Ketika produksi meningkat secara bersamaan, harga dapat mengalami penurunan. Sebaliknya, ketika pasokan terbatas, harga dapat meningkat, tetapi petani belum tentu memiliki cukup buah untuk dijual.
Persoalan tersebut dapat diatasi melalui penguatan kelembagaan petani, perencanaan produksi, pengembangan pasar, serta peningkatan kemampuan pengolahan hasil.
Kelompok tani dan koperasi dapat berperan dalam mengatur jadwal panen, mengumpulkan hasil, melakukan sortasi, serta membangun hubungan perdagangan dengan pembeli.
Kelembagaan yang kuat juga dapat membantu petani memperoleh informasi harga dan memperbaiki posisi tawar.
Tantangan lainnya adalah menjaga identitas Jeruk Gerga.
Ketika sebuah komoditas semakin populer, terdapat risiko penggunaan nama yang tidak sesuai dengan asal-usul atau kualitas produk.
Karena itu, diperlukan sistem pengawasan mutu dan penguatan identitas produk agar nama Jeruk Gerga Lebong tetap dipercaya konsumen.
Popularitas seharusnya menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas, bukan alasan untuk mengabaikannya.
Membangun Masa Depan Jeruk Gerga: Dari Komoditas Menjadi Ekosistem
Pengembangan Jeruk Gerga perlu diarahkan pada pembangunan ekosistem agribisnis yang berkelanjutan.
Langkah pertama adalah memperkuat penelitian dan pengembangan teknologi budidaya.
Lembaga penelitian, perguruan tinggi, penyuluh, dan petani perlu bekerja sama untuk meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas buah, serta mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayah Bengkulu.
Langkah kedua adalah memperkuat kelembagaan petani.
Kelompok tani dan koperasi dapat menjadi wadah untuk mengembangkan pembibitan, pengadaan sarana produksi, pengelolaan hasil panen, hingga pemasaran.
Langkah ketiga adalah membangun sistem pemasaran yang lebih terorganisasi.
Petani perlu memperoleh akses terhadap informasi harga, kebutuhan pasar, serta standar kualitas yang diminta oleh pembeli.
Langkah keempat adalah mengembangkan industri pengolahan.
Pengolahan hasil dapat memperpanjang rantai nilai dan mengurangi ketergantungan petani pada penjualan buah segar.
Langkah kelima adalah membangun identitas Jeruk Gerga sebagai produk unggulan daerah.
Identitas tersebut dapat dikembangkan melalui merek kolektif, promosi wisata, festival buah, dan kegiatan pemasaran yang melibatkan pemerintah daerah serta pelaku usaha.
Langkah keenam adalah memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Pengembangan kebun jeruk harus tetap menjaga kesuburan tanah, ketersediaan air, dan keseimbangan lingkungan. Penggunaan pupuk serta pestisida perlu dilakukan secara bijaksana agar produktivitas tidak mengorbankan kualitas lingkungan.
Dengan langkah-langkah tersebut, Jeruk Gerga dapat dikembangkan bukan hanya sebagai komoditas pertanian, tetapi sebagai bagian dari pembangunan ekonomi wilayah.
Penutup: Kebanggaan yang Tumbuh dari Kebun Rakyat
Jeruk Gerga Lebong merupakan contoh menarik tentang bagaimana sebuah tanaman dapat berkembang menjadi identitas daerah.
Perjalanannya dimulai dari tanaman yang diperkenalkan dari luar negeri, kemudian tumbuh dan berkembang di tanah Lebong melalui peran seorang petani. Dari kebun yang terbatas, jeruk ini memperoleh perhatian masyarakat, lembaga penelitian, pemerintah, dan pasar.
Kini, Jeruk Gerga memiliki peluang untuk menjadi salah satu komoditas unggulan yang memperkuat ekonomi Bengkulu.
Namun, peluang tersebut tidak akan terwujud hanya dengan memperluas areal tanam.
Diperlukan pengelolaan yang baik, bibit berkualitas, teknologi budidaya, kelembagaan petani, sistem pemasaran, serta dukungan kebijakan yang berkelanjutan.
Jeruk Gerga juga perlu dikembangkan dengan pendekatan yang mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Petani harus menjadi pelaku utama, bukan sekadar pemasok bahan baku bagi pihak lain.
Ketika petani memperoleh keuntungan yang layak, usaha pembibitan tumbuh, perdagangan berkembang, industri pengolahan bergerak, dan wisata kebun semakin ramai, maka Jeruk Gerga benar-benar menjadi penggerak ekonomi pedesaan.
Di tengah persaingan komoditas hortikultura nasional, Bengkulu memiliki sesuatu yang istimewa.
Sebuah jeruk dengan nama daerah, cerita sejarah, karakteristik buah yang khas, dan potensi ekonomi yang menjanjikan.
Jeruk Gerga Lebong mengajarkan bahwa kebanggaan daerah tidak selalu harus dibangun dari sesuatu yang megah. Terkadang, kebanggaan itu tumbuh dari sebuah kebun, dari tangan seorang petani, dan dari buah yang dipelihara dengan kesabaran.
Dari Rimbo Pengadang, Jeruk Gerga membawa pesan sederhana tetapi bermakna: potensi lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola dengan pengetahuan, kerja sama, dan visi masa depan.
Jeruk Gerga bukan hanya buah kebanggaan Lebong.
Ia adalah peluang bagi Bengkulu untuk membangun pertanian yang lebih maju, masyarakat pedesaan yang lebih sejahtera, dan ekonomi daerah yang bertumpu pada kekuatan sendiri.





