18 Februari 2026

15.20 , No comments

 I. Latar Belakang Berdirinya UPKD Sinar Abadi

Unit Pengelola Keuangan Desa (UPKD) Sinar Abadi Desa Wono Harjo merupakan salah satu lembaga keuangan mikro desa yang lahir dari semangat pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan. UPKD ini berdiri pada tahun 2004 melalui program Bengkulu Regional Development Project (BRDP), sebuah program pengembangan wilayah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui penguatan kelembagaan ekonomi dan akses permodalan.

Pada awal pembentukannya, UPKD Sinar Abadi memperoleh modal awal sebesar Rp200.000.000 (dua ratus juta rupiah). Modal tersebut menjadi fondasi awal bagi lembaga dalam menjalankan fungsi utamanya, yaitu memberikan layanan simpan pinjam kepada masyarakat Desa Wono Harjo. Kehadiran UPKD menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan yang mudah, terjangkau, dan berbasis pada prinsip kebersamaan serta kepercayaan.

Sejak awal berdiri, UPKD Sinar Abadi dirancang sebagai lembaga keuangan yang dikelola secara partisipatif oleh masyarakat desa sendiri. Hal ini sejalan dengan prinsip BRDP yang menekankan pemberdayaan lokal dan kemandirian desa. Dengan pendekatan tersebut, UPKD tidak hanya menjadi lembaga keuangan, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi lokal.

Kantor UPKD Sinar Abadi Desa Wono Harjo


II. Perkembangan dan Pertumbuhan Aset

Dalam kurun waktu lebih dari dua dekade, UPKD Sinar Abadi menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Dari modal awal sebesar Rp200 juta pada tahun 2004, hingga tahun 2025 aset yang dikelola telah berkembang menjadi Rp1.477.000.000 (1,477 milyar rupiah).

Pertumbuhan aset ini mencerminkan beberapa hal penting:

1. Kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap lembaga.

2. Pengelolaan keuangan yang profesional dan transparan.

3. Kinerja simpan pinjam yang sehat dan berkelanjutan.

4. Komitmen pengurus dalam menjaga keberlanjutan usaha.

Perkembangan aset tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan kerja keras pengurus dan partisipasi aktif masyarakat. Sistem administrasi yang tertib, pengawasan internal yang konsisten, serta evaluasi berkala menjadi faktor pendukung utama dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan keuangan UPKD.

Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa lembaga keuangan desa, apabila dikelola dengan baik, mampu menjadi institusi ekonomi yang kuat dan berdaya saing di tingkat lokal.


III. Layanan Simpan Pinjam bagi Masyarakat

UPKD Sinar Abadi menjalankan kegiatan utama berupa layanan simpan pinjam kepada warga Desa Wono Harjo. Layanan ini dirancang untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan modal usaha, biaya pendidikan, kebutuhan pertanian, maupun kebutuhan produktif lainnya.

1. Simpanan

Masyarakat desa dapat menyimpan dana mereka di UPKD sebagai bentuk investasi sekaligus partisipasi dalam penguatan lembaga. Simpanan ini menjadi salah satu sumber dana yang kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman. Jumlah Simpanan Anggota yang ada di UPKD mencapai Rp.216.447.734.

2. Pinjaman

Pinjaman diberikan dengan prosedur yang relatif sederhana namun tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. Beberapa karakteristik pinjaman di UPKD Sinar Abadi antara lain:

Bunga relatif terjangkau.

Proses administrasi mudah.

Jangka waktu fleksibel.

Pengawasan dan pendampingan kepada peminjam.

Mayoritas pinjaman dimanfaatkan untuk:

Modal usaha kecil dan menengah.

Pembelian sarana produksi pertanian.

Biaya pendidikan anak.

Kebutuhan mendesak rumah tangga.

Melalui sistem ini, UPKD berperan dalam mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap rentenir atau lembaga pembiayaan informal dengan bunga tinggi. Piutang pinjaman kepada anggota masyarakat Desa Wono Harjo mencapai Rp.958.221.200.


IV. Kinerja Keuangan Tahun 2025

Pada tahun buku 2025, UPKD Sinar Abadi mencatat kinerja keuangan yang cukup baik dan stabil.

Pendapatan : Rp107.063.500

Biaya Operasional : Rp56.972.000

Dari data tersebut dapat dihitung bahwa UPKD memperoleh surplus (laba bersih) sebesar:

Rp107.063.500 – Rp56.972.000 = Rp50.091.500

Surplus ini menunjukkan bahwa operasional UPKD berjalan efisien dan produktif. Rasio biaya terhadap pendapatan juga menunjukkan pengelolaan yang sehat. Surplus yang diperoleh umumnya digunakan untuk:

1. Penambahan modal lembaga.

2. Dana cadangan risiko.

3. Insentif pengurus.

4. Penguatan kelembagaan dan administrasi.

Kinerja keuangan yang positif ini semakin memperkuat posisi UPKD sebagai lembaga ekonomi desa yang berkelanjutan.


V. Struktur Organisasi dan Kepengurusan

Keberhasilan UPKD Sinar Abadi tidak terlepas dari peran pengurus yang menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Susunan pengurus saat ini adalah:

Ketua : Dwi Priyono, S.IP

Sekretaris : Suyani

Bendahara : Sriyono

1. Ketua

Sebagai pimpinan lembaga, Ketua bertanggung jawab dalam pengambilan kebijakan strategis, pengawasan umum, serta membangun hubungan dengan pemerintah desa dan pihak eksternal.

2. Sekretaris

Sekretaris bertugas mengelola administrasi, dokumentasi, serta memastikan tertibnya pencatatan kegiatan operasional.

3. Bendahara

Bendahara memegang peran penting dalam pengelolaan keuangan, pencatatan transaksi, laporan keuangan, serta menjaga akuntabilitas dana.

Sinergi antara ketua, sekretaris, dan bendahara menjadi kunci keberhasilan pengelolaan UPKD. Transparansi laporan dan keterbukaan informasi kepada anggota turut memperkuat kepercayaan masyarakat.


VI. Peran Strategis dalam Pemberdayaan Ekonomi Desa

UPKD Sinar Abadi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi desa. Beberapa kontribusi nyata antara lain:

1. Mendorong pertumbuhan usaha mikro desa.

2. Meningkatkan pendapatan rumah tangga masyarakat.

3. Menciptakan budaya menabung.

4. Meningkatkan literasi keuangan masyarakat.

5. Memperkuat kemandirian ekonomi desa.

Dengan akses permodalan yang lebih mudah, masyarakat dapat mengembangkan usaha pertanian, perdagangan kecil, maupun jasa. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan dan pengurangan kemiskinan.


VII. Tantangan dan Prospek ke Depan

Meskipun menunjukkan perkembangan yang baik, UPKD Sinar Abadi tetap menghadapi beberapa tantangan, antara lain:

Risiko kredit macet.

Persaingan dengan lembaga keuangan formal.

Perubahan regulasi.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Namun demikian, dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, UPKD memiliki fondasi yang kuat untuk terus berkembang. Beberapa strategi penguatan ke depan dapat meliputi:

1. Digitalisasi administrasi keuangan.

2. Peningkatan kapasitas pengurus melalui pelatihan.

3. Diversifikasi produk keuangan.

4. Penguatan sistem pengawasan internal.

Dengan strategi tersebut, diharapkan aset UPKD akan terus bertambah dan mampu menembus angka di atas 2 milyar rupiah dalam beberapa tahun ke depan.


VIII. Penutup

UPKD Sinar Abadi Desa Wono Harjo Kecamatan Giri Mulya merupakan contoh nyata keberhasilan program pemberdayaan ekonomi desa yang berkelanjutan. Berdiri pada tahun 2004 melalui program BRDP dengan modal awal Rp200 juta, kini pada tahun 2025 telah berkembang menjadi lembaga dengan aset Rp1,477 milyar.

Melalui layanan simpan pinjam kepada masyarakat, UPKD telah memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan warga desa. Kinerja keuangan yang sehat, kepengurusan yang solid, serta kepercayaan masyarakat menjadi pilar utama keberlanjutan lembaga ini.

Ke depan, UPKD Sinar Abadi diharapkan terus tumbuh sebagai lembaga keuangan desa yang profesional, transparan, dan berorientasi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan semangat kebersamaan dan pengelolaan yang akuntabel, UPKD Sinar Abadi akan tetap menjadi cahaya ekonomi bagi Desa Wono Harjo — sesuai dengan namanya, Sinar Abadi, yang berarti cahaya yang terus menerangi sepanjang masa.


25 Januari 2026

13.42 , No comments

 

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan sektor konstruksi, perkebunan, pertambangan rakyat, serta pembangunan infrastruktur jalan, irigasi, dan kawasan industri di berbagai daerah mendorong peningkatan kebutuhan alat berat. Tidak semua pelaksana proyek memiliki kemampuan investasi untuk membeli alat berat sendiri, sehingga usaha penyewaan alat berat dengan operator menjadi solusi yang efisien dan ekonomis.

Loader

Usaha ini direncanakan dengan kepemilikan unit alat berat sebagai berikut:

  • Excavator Komatsu PC 200-7
  • Excavator Komatsu PC 200-8
  • Excavator Komatsu PC-60
  • Excavator Hitachi ZX 138

Keempat unit tersebut merupakan tipe yang paling umum digunakan, fleksibel untuk pekerjaan galian, loading, pembukaan lahan, saluran, dan pekerjaan konstruksi skala kecil hingga menengah.

 

1.2 Tujuan Penyusunan Proposal

Proposal ini bertujuan untuk:

  1. Menjelaskan aspek teknis operasional usaha penyewaan alat berat.
  2. Menganalisis kelayakan finansial usaha.
  3. Menyusun proyeksi arus kas usaha.
  4. Menghitung indikator kelayakan investasi berupa NPV dan IRR.
  5. Menjadi dasar pengambilan keputusan investasi dan pengembangan usaha.

 

II. GAMBARAN UMUM USAHA

2.1 Jenis Usaha

Usaha yang dijalankan adalah penyewaan alat berat lengkap dengan operator dan mekanik pendukung, dengan sistem sewa harian dan bulanan.

 

2.2 Spesifikasi Alat Berat

No

Jenis Alat

Kapasitas

Kegunaan Utama

1

PC 200-7

±20 ton

Galian besar, land clearing

2

PC 200-8

±20 ton

Proyek konstruksi, loading

3

PC-60

±6 ton

Parit, area sempit

4

Hitachi 138

±13–14 ton

Pekerjaan menengah

 

2.3 Segmen Pasar

  • Kontraktor bangunan dan jalan
  • Perkebunan sawit dan karet
  • Proyek desa dan pemerintah daerah
  • Tambang rakyat dan pekerjaan cut & fill

 

III. ASPEK TEKNIS OPERASIONAL

3.1 Sistem Operasional

  • Alat disewakan lengkap dengan operator
  • Jam kerja: 8 jam per hari
  • Sistem mobilisasi ditanggung penyewa (atau sesuai kesepakatan)
  • Perawatan ringan dilakukan harian, perawatan besar berkala

 

3.2 Kebutuhan Tenaga Kerja

Jabatan

Jumlah

Keterangan

Operator

4 orang

1 operator per unit

Mekanik

1 orang

Maintenance & perbaikan

Administrasi

1 orang

Keuangan & kontrak

 

3.3 Jadwal Perawatan

  • Harian: pengecekan oli, grease, kebocoran
  • Bulanan: filter, oli mesin
  • Tahunan: overhaul ringan, undercarriage

Biaya perawatan dihitung sebagai komponen tetap dalam analisis finansial.

 

IV. ASUMSI DASAR ANALISIS KEUANGAN

4.1 Tarif Sewa (Rata-rata)

Alat

Tarif / Hari (Rp)

PC 200-7

4.500.000

PC 200-8

4.800.000

PC-60

2.800.000

Hitachi 138

3.800.000

 

4.2 Tingkat Utilisasi

  • Rata-rata 20 hari kerja per bulan
  • 12 bulan operasi per tahun

4.3 Investasi Awal (Nilai Buku)

Alat

Nilai (Rp)

PC 200-7

1.300.000.000

PC 200-8

1.450.000.000

PC-60

650.000.000

Hitachi 138

1.100.000.000

Total Investasi

4.500.000.000

 

V. PROYEKSI PENDAPATAN

5.1 Pendapatan Bulanan

Alat

Pendapatan / Bulan (Rp)

PC 200-7

90.000.000

PC 200-8

96.000.000

PC-60

56.000.000

Hitachi 138

76.000.000

Total

318.000.000

5.2 Pendapatan Tahunan

Rp 3.816.000.000

 

VI. BIAYA OPERASIONAL

6.1 Biaya Tetap & Variabel (Tahunan)

Komponen

Nilai (Rp)

Gaji operator

360.000.000

Gaji mekanik & admin

180.000.000

BBM (rata-rata)

720.000.000

Pemeliharaan & sparepart

360.000.000

Asuransi & pajak

90.000.000

Lain-lain

60.000.000

Total Biaya

1.770.000.000

 

VII. PROYEKSI ARUS KAS

7.1 Arus Kas Bersih Tahunan

Pendapatan Tahunan : Rp 3.816.000.000
Biaya Operasional : Rp 1.770.000.000

Arus Kas Bersih : Rp 2.046.000.000 / tahun

7.2 Proyeksi Arus Kas 5 Tahun

 

Tahun

Arus Kas (Rp)

0

(4.500.000.000)

1

2.046.000.000

2

2.046.000.000

3

2.046.000.000

4

2.046.000.000

5

2.046.000.000 + Nilai Sisa 1.500.000.000

VIII. ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI

8.1 Net Present Value (NPV)

Asumsi tingkat diskonto: 12%

NPV ≈ + Rp 3,15 Miliar
→ NPV positif, usaha layak secara finansial.

8.2 Internal Rate of Return (IRR)

Hasil perhitungan menunjukkan:
IRR ≈ 38–40%

→ IRR jauh di atas tingkat bunga pinjaman dan cost of capital.


8.3 Payback Period

  • Modal kembali dalam ± 2,3 tahun

 

IX. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

9.1 Kesimpulan

  1. Usaha penyewaan alat berat dengan unit PC 200-7, PC 200-8, PC-60 dan Hitachi 138 sangat layak dijalankan.
  2. Secara teknis mudah dioperasikan dan memiliki pasar luas.
  3. Secara finansial menghasilkan arus kas positif, NPV tinggi, dan IRR sangat menarik.

 

9.2 Rekomendasi

  • Menjaga utilisasi minimal 65–70%
  • Disiplin pemeliharaan untuk menekan biaya besar
  • Mengembangkan kontrak jangka panjang dengan kontraktor dan perkebunan

15 Januari 2026

06.06 , No comments

 

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan nasional yang memiliki peran strategis dalam perekonomian daerah maupun nasional. Tingginya permintaan CPO (Crude Palm Oil) dan produk turunannya menjadikan kegiatan jual beli Tandan Buah Segar (TBS) sebagai mata rantai penting dalam industri sawit.

Di tingkat petani dan pekebun rakyat, keberadaan unit usaha jual beli TBS dengan kapasitas menengah sangat dibutuhkan untuk menjamin kepastian penyerapan hasil panen, kestabilan harga, serta efisiensi distribusi ke pabrik kelapa sawit (PKS). Oleh karena itu, diperlukan kegiatan usaha jual beli TBS yang dikelola secara profesional, transparan, dan berkelanjutan.

Proposal ini disusun sebagai acuan teknis pendirian dan pengelolaan usaha jual beli TBS kelapa sawit dengan kapasitas 25 ton per hari, mulai dari aspek teknis operasional, kebutuhan sarana prasarana, perhitungan anggaran biaya (RAB), hingga analisis kelayakan usaha.

Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit

1.2 Tujuan Kegiatan

Tujuan penyusunan proposal ini adalah:

  1. Menyediakan panduan teknis kegiatan jual beli TBS kelapa sawit.
  2. Menjelaskan sistem operasional usaha dengan kapasitas 25 ton per hari.
  3. Menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) secara rinci.
  4. Menganalisis kelayakan usaha dari aspek teknis, finansial, dan ekonomi.

1.3 Sasaran Kegiatan

Sasaran dari kegiatan ini meliputi:

  • Petani dan pekebun sawit rakyat
  • Koperasi atau BUMDes
  • Mitra PKS (Pabrik Kelapa Sawit)
  • Investor atau lembaga pembiayaan

II. GAMBARAN UMUM USAHA

2.1 Jenis Usaha

Usaha yang direncanakan adalah jual beli Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit, dengan sistem:

  • Pembelian TBS dari petani/pengepul kecil
  • Penimbangan dan sortasi
  • Pengangkutan dan penjualan ke PKS

2.2 Kapasitas Usaha

  • Kapasitas pembelian: 25 ton TBS per hari
  • Hari operasional: 26 hari kerja per bulan
  • Volume bulanan: ±650 ton
  • Volume tahunan: ±7.800 ton

2.3 Lokasi Usaha

Lokasi usaha direncanakan berada di jalan lintas Bengkulu – Mukomuko Desa Penarik, Kecamatan Penarik Kabupaten Mukomuko dengan pertimbangan starategis sebagai berikut:

  • Wilayah sentra perkebunan sawit rakyat
  • Akses jalan memadai untuk truk pengangkut
  • Jarak ke PKS maksimal 520 km (efisiensi biaya angkut)

III. URAIAN TEKNIS OPERASIONAL

3.1 Alur Kegiatan Operasional

  1. Penerimaan TBS
    • Petani mengirim TBS ke lokasi penampungan
    • Pemeriksaan awal kualitas (kematangan, brondolan, kebersihan)
  2. Penimbangan
    • Menggunakan timbangan digital kapasitas ≥40 ton
    • Dicatat dalam buku atau sistem pencatatan harian
  3. Sortasi dan Grading
    • Pemisahan TBS mentah, busuk, atau abnormal
    • Potongan harga jika kualitas di bawah standar
  4. Penyimpanan Sementara
    • Maksimal 24 jam untuk menjaga kualitas
    • Disusun rapi di lantai cor atau terpal
  5. Pengangkutan ke PKS
    • Menggunakan dump truck atau truk bak terbuka
    • Pengiriman dilakukan setiap hari

3.2 Standar Mutu TBS

Standar mutu yang diterapkan:

  • Tingkat kematangan: fraksi 2–3
  • Brondolan minimal 10%
  • Bebas dari sampah, pasir, dan tangkai panjang
  • Tidak busuk atau terlalu mentah

 

3.3 Sarana dan Prasarana

  1. Lahan Operasional
    • Luas ±1.000–1.500 m²
    • Lantai cor beton
  2. Peralatan Utama
    • Timbangan digital
    • Terpal
    • Alat bongkar muat
    • APD pekerja
  3. Sarana Angkut
    • 1 unit dump truck kapasitas 8–10 ton
    • Sistem sewa atau milik sendiri

3.4 Tenaga Kerja

No

Jabatan

Jumlah

1

Koordinator usaha

1 orang

2

Petugas timbang & administrasi

1 orang

3

Pekerja bongkar muat

4 orang

4

Supir truk

2 orang

Total tenaga kerja: 8 orang

 

IV. RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)

4.1 Investasi Awal

No

Uraian

Volume

Biaya (Rp)

1

Sewa/persiapan lahan (1 tahun)

1 paket

25.000.000

2

Pembuatan lantai cor & drainase

1 paket

30.000.000

3

Timbangan digital 40 ton

1 unit

60.000.000

4

Peralatan bongkar muat & APD

1 paket

10.000.000

5

Biaya perizinan & administrasi

1 paket

5.000.000

Total Investasi Awal: Rp130.000.000

 

 

4.2 Biaya Operasional Bulanan

No

Uraian

Biaya/Bulan (Rp)

1

Pembelian TBS (650 ton x Rp2.000/kg)

1.300.000.000

2

Upah tenaga kerja

15.000.000

3

BBM & transportasi

20.000.000

4

Pemeliharaan alat & timbangan

3.000.000

5

Biaya administrasi & komunikasi

2.000.000

Total Biaya Operasional/Bulan: Rp1.340.000.000

 

V. ANALISIS PENDAPATAN USAHA

5.1 Pendapatan

  • Harga jual ke PKS: Rp2.150/kg (harga rata-rata)
  • Volume: 650 ton/bulan

Pendapatan kotor:
650.000 kg x Rp2.150 = Rp1.397.500.000

5.2 Laba Kotor Bulanan

Pendapatan – Biaya Operasional
= Rp1.397.500.000 – Rp1.340.000.000
= Rp57.500.000 / bulan

VI. ANALISIS KELAYAKAN USAHA

6.1 Kelayakan Teknis

  • Bahan baku tersedia sepanjang tahun
  • Teknologi sederhana dan mudah diterapkan
  • SDM lokal tersedia

Kesimpulan: Layak secara teknis

6.2 Kelayakan Finansial

  • Laba bersih bulanan ± Rp50–55 juta
  • BEP investasi ± 2,5–3 bulan
  • Margin usaha stabil

Kesimpulan: Layak secara finansial

 

6.3 Kelayakan Ekonomi dan Sosial

  • Menyerap tenaga kerja lokal
  • Meningkatkan pendapatan petani
  • Mendukung rantai pasok industri sawit

Kesimpulan: Layak secara ekonomi dan sosial

VII. RISIKO USAHA DAN MITIGASI

Risiko

Mitigasi

Fluktuasi harga TBS

Kontrak harga harian dengan PKS

Cuaca buruk

Manajemen stok maksimal 24 jam

Kualitas TBS rendah

Penerapan standar grading

 

VIII. ANALISIS ARUS KAS (CASH FLOW)

8.1 Asumsi Dasar Perhitungan

Untuk menjaga kehati-hatian, digunakan asumsi sebagai berikut:

1.     Kapasitas usaha: 25 ton/hari

2.     Hari kerja: 26 hari/bulan

3.     Volume:

o   Bulanan: 650 ton

o   Tahunan: 7.800 ton

4.     Harga beli TBS: Rp2.000/kg

5.     Harga jual TBS ke PKS: Rp2.150/kg

6.     Margin bersih rata-rata: Rp150/kg

7.     Laba bersih rata-rata: ± Rp55.000.000/bulan

8.     Investasi awal: Rp130.000.000

9.     Umur proyek: 5 tahun

10.  Discount rate (tingkat diskonto): 12% per tahun
(mengacu pada suku bunga kredit UMKM / koperasi)

8.2 Arus Kas Bersih Tahunan

Laba Bersih Tahunan

Rp55.000.000 x 12 bulan
= Rp660.000.000 / tahun

Diasumsikan laba relatif stabil selama umur proyek.

Tabel Arus Kas Proyek (5 Tahun)

Tahun

Arus Kas Bersih (Rp)

Faktor Diskonto 12%

Nilai Sekarang (Rp)

0

-130.000.000

1,00

-130.000.000

1

660.000.000

0,893

589.380.000

2

660.000.000

0,797

526.020.000

3

660.000.000

0,712

469.920.000

4

660.000.000

0,636

419.760.000

5

660.000.000

0,567

374.220.000

Total PV Arus Kas Masuk
= Rp2.379.300.000

 

IX. ANALISIS NET PRESENT VALUE (NPV)

9.1 Rumus NPV

NPV=∑CFt(1+r)t−I0\text{NPV} = \sum \frac{CF_t}{(1+r)^t} - I_0NPV=(1+r)tCFt​​I0

Dimana:

·        CF = Cash Flow

·        r = Discount Rate

·        I₀ = Investasi awal

9.2 Perhitungan NPV

NPV = Total PV Arus Kas Masuk – Investasi Awal

NPV = Rp2.379.300.000 – Rp130.000.000

NPV = Rp2.249.300.000 (POSITIF)

9.3 Interpretasi NPV

·        NPV > 0 → Usaha sangat layak

·        Nilai NPV yang besar menunjukkan:

o   Margin usaha kuat

o   Risiko finansial relatif rendah

o   Usaha mampu menanggung fluktuasi harga

 

 

X. ANALISIS INTERNAL RATE OF RETURN (IRR)

10.1 Pengertian IRR

IRR adalah tingkat diskonto yang membuat NPV = 0, atau tingkat pengembalian internal proyek.

10.2 Estimasi IRR

Dengan:

·        Investasi awal relatif kecil (Rp130 juta)

·        Arus kas tahunan sangat besar (Rp660 juta)

·        Payback period < 1 tahun

Maka IRR dapat dihitung dengan pendekatan interpolasi/Proyeksi.

10.3 Pendekatan Perhitungan IRR

Dicoba dua tingkat diskonto:

Diskonto 100%

PV arus kas tahun pertama:
660.000.000 / (1+1) = 330.000.000

Masih jauh di atas investasi awal.

Diskonto 300%

660.000.000 / (1+3) = 165.000.000

Masih di atas investasi awal.

Artinya IRR jauh di atas 100%.

IRR Diperkirakan ± 350% – 400% per tahun

10.4 Interpretasi IRR

Kriteria

Nilai

Discount Rate

12%

IRR Proyek

± 350%

Keputusan

Sangat Layak

IRR jauh melampaui tingkat bunga pinjaman atau biaya modal, sehingga proyek sangat menarik bagi investor maupun lembaga pembiayaan.

 

XI. PAYBACK PERIOD (Tambahan Penguat Kelayakan)

11.1 Perhitungan Payback Period

Investasi awal: Rp130.000.000
Laba bersih bulanan: Rp55.000.000

Payback Period =
130.000.000 / 55.000.000 ≈ 2,36 bulan

11.2 Interpretasi

·        Modal kembali dalam ± 2–3 bulan

·        Risiko investasi rendah

·        Cocok untuk usaha koperasi,  dan UMKM skala menengah

XII. KESIMPULAN KELAYAKAN FINANSIAL

Berdasarkan analisis arus kas, NPV, IRR, dan Payback Period, maka:

1.     NPV positif sangat besar

2.     IRR jauh di atas tingkat diskonto

3.     Payback period sangat cepat

4.     Usaha tahan terhadap fluktuasi harga moderat

Kesimpulan Akhir:

👉 Usaha jual beli TBS kelapa sawit kapasitas 25 ton per hari SANGAT LAYAK secara finansial dan ekonomis.

 

XIII. PENUTUP

Kegiatan jual beli Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dengan kapasitas 25 ton per hari merupakan usaha yang layak, prospektif, dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan profesional, dukungan sarana prasarana yang memadai, serta sistem keuangan yang transparan, usaha ini berpotensi memberikan keuntungan ekonomi sekaligus manfaat sosial bagi petani dan masyarakat sekitar.

Proposal ini diharapkan dapat menjadi acuan teknis dan pertimbangan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengembangan usaha jual beli TBS kelapa sawit.

Recent Post

Popular Posts

Blog Archive